Dari sudut pandang sains, pernafasan memiliki pengaruh langsung terhadap sistem saraf otonom, terutama keseimbangan antara sistem saraf simpatik (fight or flight) dan parasimpatik (rest and digest). Saat kita bernapas perlahan dan dalam, reseptor di paru-paru mengirim sinyal ke otak, khususnya ke nukleus tractus solitarius di batang otak, yang kemudian menstimulasi saraf vagus untuk menurunkan detak jantung, tekanan darah, dan kadar hormon stres seperti kortisol. Selain itu, oksigen yang cukup membantu meningkatkan efisiensi metabolisme sel dan fungsi mitokondria, sementara pengeluaran karbon dioksida yang seimbang menjaga kestabilan pH darah. Dalam jangka panjang, latihan pernafasan teratur terbukti meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki fungsi imun, serta menyeimbangkan aktivitas gelombang otak antara hemisfer kiri dan kanan, menciptakan keadaan mental yang lebih fokus, tenang, dan resilien.
Selain manfaat fisik, pernafasan yang terlatih juga membawa keuntungan bagi kesehatan mental dan emosional. Dengan bernapas secara sadar, kita belajar hadir sepenuhnya di saat ini, mengurangi pikiran yang melompat-lompat, dan menurunkan stres kronis. Pernafasan yang baik membantu kita mengendalikan reaksi emosional, sehingga lebih tenang menghadapi konflik atau tekanan hidup. Bahkan aktivitas sederhana seperti menarik napas dalam beberapa kali saat merasa cemas dapat menenangkan tubuh dan pikiran secara instan. Dengan membiasakan latihan ini, kita tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga membangun ketahanan mental, kestabilan emosi, dan rasa nyaman dalam kehidupan sehari-hari.
No comments:
Post a Comment